BLANTERORBITv102

    Review Novel Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis | Keigo Higashino

    2024-09-25

     

    malice keigo higashino

    Karyamu, Membunuhmu!


    Ruang Resensi — Novel misteri lazimnya bergerak dari satu pertanyaan utama: siapa pelakunya? Pembaca digiring untuk menebak, mengeliminasi, lalu menunggu pengungkapan di akhir cerita. Namun Malice karya Keigo Higashino memilih jalur berbeda. Pelaku bukan teka-teki utama. Yang menjadi pusat cerita justru satu pertanyaan yang jauh lebih gelap: mengapa pembunuhan itu dilakukan?

    Di tangan Keigo Higashino, pembunuhan tidak berdiri sendiri sebagai peristiwa kriminal, melainkan sebagai pintu masuk untuk menyingkap dunia kepenulisan—ambisi, kecemburuan, dokumentasi, dan sisi gelap di balik karya yang tampak rapi di etalase toko buku.


    Sinopsis Novel Malice Karya Keigo Higashino

    Kisah dibuka dengan sudut pandang Nonoguchi Osamu. Pada Selasa, 16 April, ia mendatangi rumah sahabat lamanya, Hidaka Kunihiko—seorang novelis terkenal yang sebentar lagi akan pindah ke Kanada. Kedatangannya diniatkan sebagai kunjungan perpisahan.

    Di pekarangan rumah Hidaka, Nonoguchi bertemu seorang perempuan asing bernama Niimi, yang mengaku hanya mengambil topinya yang terbawa angin. Tidak ada kecurigaan berarti saat itu. Hidaka sendiri kemudian menjelaskan bahwa Niimi kerap menaruh dendam karena kucingnya mati diracun—dan Hidaka mengakui perbuatannya, dengan alasan kucing itu kerap merusak lingkungan rumah.

    Pertemuan hari itu berjalan biasa. Bahkan sempat diwarnai kunjungan Fujio Miyako, seorang perempuan yang memprotes karakter dalam novel Hidaka karena dianggap mencerminkan adiknya secara negatif.

    Malam harinya, Hidaka menelepon Nonoguchi dan memintanya datang kembali ke rumah. Namun saat Nonoguchi tiba, rumah tersebut gelap dan sunyi. Setelah menghubungi Rie—istri Hidaka—keduanya masuk ke rumah dan menemukan Hidaka telah tewas di ruang kerjanya, terbujur kaku dengan leher terpelintir.

    Kematian ini menjadi titik awal penyelidikan. Polisi menghadirkan detektif Kaga Kyoichiro, yang kebetulan pernah bekerja bersama Nonoguchi di sekolah pada masa lalu. Melalui percakapan-percakapan yang tampak santai namun tajam, Kaga mulai menguliti keterangan Nonoguchi.

    Di saat yang sama, Nonoguchi memutuskan menulis dokumentasi kasus pembunuhan sahabatnya. Ironisnya, justru melalui tulisan inilah, kebenaran mulai terkuak—bukan hanya tentang siapa pelakunya, tetapi motif terdalam yang selama ini tersembunyi.


    Tipuan Keigo: Dua Sudut Pandang, Satu Kebenaran yang Retak

    Keigo Higashino menyusun Malice dengan dua poros narasi: catatan Nonoguchi sebagai saksi sekaligus penulis, dan sudut pandang Kaga sebagai detektif. Dari sinilah pembaca mulai menyadari bahwa fakta tidak selalu identik dengan kebenaran.

    Beberapa tokoh tampak memiliki motif:
    Niimi dengan dendam atas kematian kucingnya, Fujio Miyako yang tersinggung oleh karya Hidaka, Rie sang istri, hingga Nonoguchi sendiri—sahabat yang hidup di bawah bayang-bayang kesuksesan Hidaka.

    Namun Keigo dengan sengaja menggiring pembaca untuk merasa “aman” dengan kesimpulan tertentu, hanya untuk kemudian membongkarnya secara perlahan. Tipuan demi tipuan disusun halus, membuat pembaca meragukan simpati dan prasangka mereka sendiri.


    Kelebihan dan Kekurangan Novel Malice

    Keigo Higashino kerap menghadirkan dilema moral dengan cara yang halus dan manusiawi, sebagaimana juga terlihat dalam Keajaiban Toko Kelontong Namiya, novel lain yang mempertemukan pilihan hidup, masa lalu, dan penyesalan. Pendekatan serupa kembali ia gunakan dalam Malice, namun dengan lapisan intrik yang lebih gelap dan menyesakkan.

    Salah satu kekuatan terbesar Malice terletak pada keberaniannya mengungkap pelaku lebih awal, tanpa menghilangkan ketegangan cerita. Justru setelah pelaku terkuak, cerita menjadi semakin mencekam karena fokus berpindah pada motif, manipulasi, dan rekayasa realitas.

    Keigo Higashino juga dengan cermat mengangkat isu plagiarisme, kecemburuan intelektual, dan obsesi terhadap pengakuan. Dunia kepenulisan digambarkan tidak selalu mulia; ada ambisi, luka batin, dan hasrat untuk diakui dengan cara apa pun.

    Namun, novel ini bukan tanpa cela. Pada bagian akhir, wawancara Kaga dengan beberapa tokoh terasa melambat dan berulang. Meski bertujuan memperjelas konteks, beberapa bagian tampak terlalu panjang dan menguji kesabaran pembaca.


    Kesimpulan

    Malice bukan sekadar novel detektif tentang kematian seorang novelis terkenal. Ia adalah kisah tentang iri hati, dokumentasi, dan bagaimana sebuah karya dapat menjadi senjata yang mematikan.

    Keigo Higashino menunjukkan bahwa kejahatan paling berbahaya bukan selalu yang berdarah-darah, melainkan yang lahir dari kecemburuan sunyi dan hasrat untuk diakui.

    Novel ini direkomendasikan untuk pembaca dewasa yang menyukai misteri psikologis, intrik intelektual, dan cerita yang menuntut kewaspadaan moral.


    Identitas Novel

    Judul: Malice (Akui): Catatan Pembunuhan Sang Novelis
    Pengarang: Keigo Higashino
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Tahun Terbit: 2020
    Tebal: 304 halaman
    ISBN: 978-602-06-3932-1


    Catatan Ruang Resensi

    Malice mengingatkan bahwa kejahatan tidak selalu lahir dari kebencian, tetapi bisa tumbuh dari kecemburuan yang dipelihara lama. Dalam dunia kata-kata, satu kebohongan kecil dapat berubah menjadi tragedi besar.






    Author

    Moera Ruqiya

    Panggil aku, Moera.