BLANTERORBITv102

    Resensi Rembulan Tenggelam di Wajahmu | Tere Liye

    2024-10-02

    buku rembulan tenggelam di wajahmu

    Segala Sesuatu Terjadi untuk Sebuah Alasan

    Ruang ResensiRembulan Tenggelam di Wajahmu adalah salah satu novel Tere Liye yang paling eksistensial. Ia tidak hanya bercerita, tetapi mengajak pembaca menoleh ke belakang: tentang pilihan, penyesalan, dan makna hidup yang sering baru dipahami ketika waktu hampir habis.

    Melalui tokoh Ray, pembaca diajak menelusuri masa lalu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar yang kerap menghantui manusia: tentang keadilan hidup, kehilangan, dan alasan di balik peristiwa yang terasa kejam.

    Review buku ini mencoba membaca Rembulan Tenggelam di Wajahmu sebagai kisah perenungan tentang hidup, bukan sekadar cerita tentang masa lalu yang kelam. Tere Liye mengajak pembaca masuk ke lorong pertanyaan eksistensial: tentang takdir, keadilan, dan luka batin yang sering tidak menemukan penjelasan sederhana.


    Menjelang Akhir, Ray Menoleh ke Belakang

    Ray adalah pengusaha sukses dengan harta berlimpah. Namun di penghujung hidupnya, semua pencapaian itu tak lagi berarti. Dalam kondisi sekarat, ia ditemui oleh sosok berwajah menyenangkan yang mengajaknya kembali ke masa lalu—bukan untuk mengubah takdir, melainkan untuk memahami.

    Perjalanan itu membawa Ray kecil ke berbagai titik penting: panti asuhan yang ia benci, lapak judi yang menjerumuskannya, kematian sahabat, hingga pertemuan dengan orang-orang yang tanpa disadari telah terdampak oleh keputusannya. Setiap episode membuka satu lapis jawaban, sekaligus menyingkap bahwa hidup tidak pernah berdiri sendiri; selalu ada orang lain yang ikut menanggung akibatnya.

    Di sinilah kekuatan novel ini bekerja. Rembulan Tenggelam di Wajahmu tidak menyajikan jawaban instan, tetapi merangkai sebab dan akibat secara perlahan, hingga pembaca menyadari bahwa banyak peristiwa pahit baru tampak masuk akal ketika dilihat dari jarak waktu.


    Hidup, Keadilan, dan Pilihan

    Salah satu pertanyaan sentral yang diajukan novel ini adalah: apakah hidup adil?
    Ray, dengan segala luka dan kemarahannya, merasa hidup kerap tidak berpihak. Namun perjalanan menelusuri masa lalu memperlihatkan bahwa keadilan tidak selalu hadir dalam bentuk yang langsung terasa.

    Nasihat-nasihat yang ia terima—tentang menahan amarah, tentang tidak membalas luka dengan luka—kerap ia abaikan ketika muda. Baru di akhir perjalanan, makna dari semua itu mulai terang. Novel ini dengan halus menunjukkan bahwa ketidakadilan yang dirasakan seseorang bisa jadi adalah simpul dari rangkaian pilihan yang panjang.


    Nilai Religius yang Dihadirkan Secara Sunyi

    Tere Liye menyisipkan nilai-nilai religius tanpa menjadikannya khotbah terbuka. Sosok “orang berwajah menyenangkan”, penggunaan istilah yang netral, hingga dialog-dialog tentang keikhlasan dan ridha, memberi ruang tafsir yang luas bagi pembaca.

    Pendekatan ini membuat Rembulan Tenggelam di Wajahmu tidak terkunci dalam satu label genre religi tertentu. Nilai spiritual hadir sebagai landasan etis, bukan sebagai identitas yang ditonjolkan. Hasilnya, novel ini tetap dapat dinikmati pembaca dari latar yang beragam.


    Catatan Kritis

    Secara tematik, novel ini kuat dan menggugah. Namun pada bagian akhir, terdapat beberapa pengulangan adegan yang terasa berlebihan, khususnya pada satu titik peristiwa yang terus diulang untuk menegaskan trauma tokoh. Tujuan penekanan memang tercapai, tetapi ritmenya sedikit melambat.

    Ada pula detail naratif yang terasa janggal secara kronologis, serta inspirasi adegan yang mengingatkan pada karya lain. Meski demikian, catatan tersebut tidak menggerus kekuatan utama novel: refleksi tentang hidup yang singkat dan dampak pilihan manusia.


    Kesimpulan

    Rembulan Tenggelam di Wajahmu adalah novel tentang menyusun ulang makna hidup dari serpihan masa lalu. Ia mengajak pembaca merenung bahwa enam puluh tahun kehidupan bisa berlalu cepat, sementara dampak dari satu keputusan dapat bertahan jauh lebih lama.

    Direkomendasikan bagi pembaca dewasa muda yang menyukai fiksi reflektif dengan alur cepat, sarat pergulatan batin, dan pertanyaan eksistensial.

    Refleksi tentang kehilangan dan waktu dalam novel ini juga sejalan dengan Hujan karya Tere Liye, yang sama-sama menempatkan luka sebagai bagian dari proses memahami hidup.

    Sebagai resensi, novel ini tidak menawarkan jawaban final atas pertanyaan hidup yang diajukan tokohnya. Justru melalui ketidakpastian itulah pembaca diajak berpikir ulang tentang makna menerima dan berdamai. Review ini tentu belum menangkap seluruh lapisan cerita, tetapi semoga cukup menjadi pintu masuk untuk pembacaan yang lebih personal.


    Kutipan Pilihan

    Keberuntungan yang berlebihan selalu mengundang dengki (h. 63).
    Terkadang pukulan tidak mesti dibalas pukulan. Luka tidak mesti dibalas luka (h. 110).
    Semua kehilangan itu menyakitkan (h. 135).
    Terkadang, kesunyian bisa membunuh (h. 398).


    Identitas Buku

    Judul: Rembulan Tenggelam di Wajahmu
    Penulis: Tere Liye
    Penerbit: Republika
    Tahun Terbit: 2009
    Tebal: 426 halaman
    ISBN: 978-979-1102-469






    Author

    Moera Ruqiya

    Panggil aku, Moera.