BLANTERORBITv102

    Resensi Novel Hafalan Shalat Delisa | Tere Liye

    2022-06-27
    review novel hafalan shalat delisa

    Tsunami, Hafalan, dan Iman Seorang Anak


    Ruang Resensi — Ahad, 26 Desember 2004, menjadi tanggal yang membekas dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia. Tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam, merenggut ribuan nyawa, menghancurkan rumah, dan meninggalkan luka panjang yang tidak mudah sembuh.

    Dari tragedi inilah Hafalan Shalat Delisa lahir. Tere Liye memilih jalan yang tidak lazim: bukan kisah kepahlawanan orang dewasa atau drama politik pascabencana, melainkan cerita sederhana tentang seorang anak kecil, hafalan shalat, dan iman yang diuji secara sunyi.

    Dalam review buku ini, Hafalan Shalat Delisa dibaca bukan hanya sebagai kisah religius yang mengharukan, tetapi sebagai narasi tentang keteguhan iman dalam situasi paling rapuh. Tere Liye menghadirkan cerita yang sederhana, namun sarat dengan pertanyaan tentang keikhlasan, kehilangan, dan cara manusia bertahan ketika hidup tidak lagi ramah.


    Delisa dan Dunia yang Sederhana

    Delisa adalah anak perempuan berusia enam tahun yang hidup dalam keluarga sederhana di pesisir Lhok Nga. Ia memiliki tiga kakak perempuan dan orang tua yang hangat, religius, serta penuh perhatian. Kehidupannya berjalan sebagaimana anak-anak lain: sekolah, bermain, mengaji, dan bercanda di rumah.

    Dalam keluarga ini, ada satu kebiasaan kecil namun bermakna: setiap anak yang berhasil menuntaskan hafalan shalat akan mendapat hadiah berupa kalung emas. Kakak-kakaknya telah lebih dulu meraihnya. Kini giliran Delisa.

    Hafalan shalat ternyata tidak mudah. Bacaan sering tertukar, hafalan terhenti, dan semangat naik turun. Namun di sinilah novel ini bekerja dengan tenang—menunjukkan bahwa proses belajar agama bagi seorang anak bukanlah soal kesempurnaan, melainkan ketekunan dan dukungan orang-orang terdekat.


    Ketika Ujian dan Bencana Bertemu

    Hari ujian hafalan yang dinanti Delisa bertepatan dengan datangnya bencana besar. Saat ia berdiri untuk memulai shalat, gempa mengguncang bumi, disusul gelombang tsunami yang menyapu pesisir.

    Tere Liye tidak menempatkan Delisa sebagai pahlawan yang sadar akan tragedi besar di sekitarnya. Ia tetap seorang anak kecil yang berusaha menyelesaikan apa yang ada di hadapannya. Di titik ini, iman tidak hadir sebagai pidato atau kesadaran besar, melainkan sebagai kepatuhan sederhana: melanjutkan hafalan di tengah kekacauan.

    Novel ini memilih tidak berlebihan dalam menggambarkan penderitaan. Tragedi hadir sebagai latar yang sunyi namun menghantam, membiarkan pembaca merasakan kehilangan tanpa harus dijejali deskripsi yang berlebihan.


    Iman, Duka, dan Pemulihan

    Kekuatan utama Hafalan Shalat Delisa terletak pada caranya memadukan iman dan duka. Shalat tidak digambarkan sebagai ritual heroik, melainkan sebagai pegangan kecil yang tersisa ketika dunia runtuh.

    Tere Liye menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah, tetapi juga tentang merawat jiwa—terutama jiwa anak-anak yang kehilangan lebih dari yang bisa mereka pahami.

    Novel ini juga menekankan peran keluarga dan lingkungan dalam proses tersebut: bagaimana orang tua memberi teladan, bagaimana kesabaran bekerja perlahan, dan bagaimana iman tumbuh bukan dari ceramah, melainkan dari kebiasaan yang diulang dengan kasih.

    Tema ketulusan dan penerimaan atas kehilangan dalam novel ini dapat dibandingkan dengan perjalanan Sabari dalam Ayah karya Andrea Hirata, yang sama-sama menempatkan iman dan kesetiaan sebagai sikap hidup.


    Catatan Kritis

    Sebagai karya awal Tere Liye, novel ini memiliki konflik yang sangat sederhana. Bagian awal cerita bahkan terasa lambat dan repetitif, berputar pada kesulitan hafalan dan harapan akan hadiah kalung emas.

    Namun kesederhanaan inilah yang justru membuat tragedi di paruh cerita terasa lebih menghantam. Novel ini “diselamatkan” oleh konteks tsunami, yang meleburkan cerita kecil Delisa dengan luka besar bangsa.

    Catatan lain yang patut diperhatikan adalah penggunaan catatan kaki penulis yang terasa berlebihan dan kadang mengganggu alur emosional cerita. Selain itu, terdapat kekeliruan penulisan kutipan ayat Al-Qur’an yang luput diperbaiki meski novel telah dicetak berulang kali—sebuah detail kecil, namun penting untuk dicatat.

    Pembacaan tentang kehilangan dan waktu dalam novel ini juga menemukan gaungnya dalam Hujan karya Tere Liye, yang mengolah duka dan harapan dengan pendekatan emosional yang berbeda.


    Kesimpulan

    Hafalan Shalat Delisa adalah novel tentang iman yang tumbuh dalam kesederhanaan dan diuji oleh kehilangan. Ia tidak menawarkan jawaban besar atas tragedi, tetapi mengajak pembaca melihat bagaimana seorang anak bertahan dengan apa yang ia miliki: hafalan yang belum sempurna dan keyakinan yang masih polos.

    Novel ini cocok dibaca sebagai pengingat bahwa dalam situasi paling gelap, hal-hal kecil—seperti bacaan shalat seorang anak—dapat menjadi sumber keteguhan yang tidak terduga.

    Bagi pembaca yang menyukai kisah pemulihan batin dan empati antarmanusia, refleksi serupa juga dapat ditemukan dalam Keajaiban Toko Kelontong Namiya karya Keigo Higashino.

    Sebagai resensi sekaligus review, novel ini tidak mengajak pembaca untuk larut dalam kesedihan semata, melainkan untuk merenungkan makna sabar dan percaya di tengah ketidakpastian. Hafalan Shalat Delisa mungkin terasa sunyi, tetapi justru di situlah kekuatannya—ia berbicara pelan, namun tinggal lama di hati pembacanya.



    Identitas Buku

    Judul: Hafalan Shalat Delisa
    Penulis: Tere Liye
    Penerbit: Republika
    Tahun Terbit: 2005
    Tebal: 270 halaman
    ISBN: 978-979-321-060-5





    Author

    Moera Ruqiya

    Panggil aku, Moera.