BLANTERORBITv102

    Jika Tuhan Mengatur Rezeki, Mengapa Kita Harus Bekerja? | Ruang Resensi

    2025-02-18

    gambar rezeki

    Etika Tawakal dan Batas Usaha dalam Kitab Al-Makasib


    Pengantar: Etika dalam Menjemput Nikmat Sang Pencipta

    Ruang Resensi — Tidak ada takdir yang datang terlambat dan tidak ada satu makhluk pun yang kehilangan rezekinya, tulis Imam Al-Muhasibi dalam pengantar kitab Al-Makasib.

    Pernyataan ini terdengar menenangkan, sekaligus mengganggu. Menenangkan karena ia menegaskan jaminan ilahi. Mengganggu karena ia memunculkan pertanyaan yang tidak sederhana: jika rezeki sudah diatur, mengapa manusia tetap diperintahkan untuk bekerja?

    Pertanyaan ini bukan sekadar problem ekonomi. Ia menyentuh wilayah akidah, etika, dan cara manusia memaknai usaha.


    Rezeki, Takdir, dan Keyakinan yang Tidak Sederhana

    Imam Al-Muhasibi menegaskan bahwa seluruh makhluk berjalan di atas takdirnya masing-masing. Rezeki, ajal, dan jatah kehidupan telah dibagi dengan adil oleh Allah ﷻ.

    “Masing-masing makhluk berjalan di atas takdir yang telah digariskan, hidup dengan rezeki yang telah ditentukan, mendapatkan makanan yang telah adil dibagikan, dan mengantongi ajal yang telah ditetapkan.”

    Keyakinan ini menuntut keimanan yang tidak ringan. Sebab dalam praktiknya, manusia tetap gelisah: cemas ketika keinginan tak terpenuhi, bangga berlebihan saat berhasil, dan rapuh ketika kehilangan.

    Al-Muhasibi tidak menutup mata terhadap realitas ini. Ia justru menunjukkan bahwa watak-watak tersebut telah Allah gambarkan dalam Al-Qur’an—bahwa kecintaan pada dunia, ketergesa-gesaan, dan kegelisahan adalah bagian dari tabiat manusia.

    Namun menariknya, keberadaan sifat-sifat ini tidak membatalkan tawakal selama keyakinan dasar tetap utuh: bahwa Allah yang membagi dan mencukupi rezeki.


    Tawakal yang Aktif, Bukan Pasif

    Dalam Al-Makasib, tawakal tidak dipahami sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah keyakinan bahwa Allah yang mengatur rezeki, sementara usaha adalah bagian dari ketaatan, bukan bentuk keraguan.

    Di sinilah banyak kesalahpahaman terjadi. Ada yang mengira bahwa bekerja menunjukkan ketidakpercayaan kepada janji Allah. Ada pula yang menjadikan kerja sebagai pusat hidup, hingga melupakan Sang Pemberi rezeki.

    Al-Muhasibi menolak dua ekstrem ini. Allah memperbolehkan manusia mencari nafkah, tanpa memerintahkan mereka menghapus seluruh tabiat manusiawinya. Yang dituntut bukan kesempurnaan psikologis, melainkan kelurusan niat dan batas etis.

    Dengan cara pandang ini, usaha tidak diposisikan sebagai lawan dari iman, melainkan sebagai bagian dari proses yang disadari dan dijalani. Dalam konteks modern, kerja semacam ini dapat dipahami sebagai usaha sebagai bagian dari sistem kehidupan, bukan sekadar ledakan motivasi sesaat. 


    Bekerja, Tapi Tidak Melampaui Batas

    Salah satu bagian paling penting—dan menurut saya paling relevan—dalam kitab ini adalah pembahasan tentang ketentuan dalam mencari rezeki.

    Al-Muhasibi membedakan secara tegas:

    • pekerjaan tercela: pekerjaan yang melampaui batas dan menyelisihi perintah Allah,

    • pekerjaan terpuji: pekerjaan yang dilakukan dalam koridor syariat, menjaga diri dari pelanggaran, dan melahirkan sikap wara’ serta takwa.

    Dengan ukuran ini, bekerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi ujian etis. Bukan soal seberapa besar hasilnya, melainkan bagaimana cara mencapainya dan apa dampaknya terhadap hati.

    Dengan demikian, bekerja tidak hanya dinilai dari hasil yang tampak, tetapi dari keadaan batin yang menyertainya. Cara pandang ini sejalan dengan gagasan tentang sikap batin dalam menghadapi hasil usaha, di mana kendali diri dan kejernihan pikiran menjadi ukuran penting dalam menjalani hidup. 


    Para Sahabat dan Cara Mereka Bekerja

    Al-Muhasibi kemudian menghadirkan contoh para sahabat, tabi‘in, dan orang-orang beriman pilihan. Mereka bekerja, tetapi kerja mereka tidak merusak dzikir, tidak memutus hubungan dengan Allah, dan tidak mengikis kesadaran akhirat.

    Mereka mengambil secukupnya, tidak menumpuk berlebihan, dan tidak menukar ketaatan dengan kenyamanan dunia.

    Di titik ini, perbandingan dengan kondisi hari ini terasa tak terelakkan. Banyak orang bekerja siang dan malam, mengejar stabilitas dan pengakuan, hingga:

    • shalat ditinggalkan,

    • dzikir dilupakan,

    • majelis ilmu diabaikan,

    • dan pelanggaran dinormalisasi.

    Pertanyaannya bukan sekadar apakah kita bekerja, tetapi apa yang dikorbankan oleh cara kita bekerja.

    Pertanyaan semacam ini mengingatkan bahwa kerja tidak hanya berkaitan dengan penghasilan, tetapi juga dengan arah dan makna hidup. Dalam situasi ekstrem sekalipun, manusia tetap mencari alasan untuk bertahan dan memberi arti pada penderitaannya—sebuah tema yang juga dibahas secara mendalam dalam pencarian makna dalam kerja dan penderitaan manusia. 


    Wara’: Etika yang Hilang dari Ekonomi Modern

    Pembahasan tentang wara’ menjadi salah satu pilar penting dalam Al-Makasib. Dari Abu Ja‘far, Al-Muhasibi menukil tiga pengertian wara’:

    1. meninggalkan sesuatu yang mengganjal dalam hati,

    2. menjauhi perkara syubhat,

    3. meninggalkan hal mubah demi menghindari yang haram.

    Wara’ bukan sikap ekstrem, tetapi kewaspadaan batin. Ia menjaga agar rezeki tidak hanya halal secara hukum, tetapi juga bersih secara nurani.

    Dalam konteks ekonomi modern, konsep ini terasa asing. Namun justru di situlah relevansinya: ketika legalitas sering dijadikan satu-satunya ukuran, wara’ mengingatkan bahwa tidak semua yang boleh itu layak dikejar.


    Catatan Penting: Membaca dengan Bijak

    Kitab Al-Makasib juga memuat pandangan seorang sufi yang menganggap bekerja sebagai maksiat karena Allah telah menjamin rezeki. Pandangan ini tampak radikal—dan memang dibantah sendiri oleh Al-Muhasibi.

    Catatan ini penting, agar pembaca tidak salah paham. Kitab ini bukan ajakan meninggalkan kerja, melainkan ajakan menata ulang maknanya.

    Sebagaimana disampaikan Prof. Dr. Abdul Qadir Riyadi, Al-Makasib dapat dibaca sebagai etika ekonomi yang melampaui zamannya—karena pada masa itu, pembahasan sistematis tentang kerja dan rezeki belum menjadi wacana umum.


    Tentang Penulis dan Kitabnya

    Imam Al-Muhasibi (Abu Abdullah Al-Harits bin Asad Al-Baghdadi) adalah ulama besar tasawuf abad ke-2 Hijriyah. Ia dikenal karena ketakwaan dan sikap wara’ yang sangat ketat, bahkan menolak warisan ayahnya karena syubhat akidah.

    Sebagian ulama, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, mengingatkan agar metode hidupnya tidak ditiru secara mentah. Catatan ini penting agar pembaca memahami posisi kitab ini: bukan bacaan pemula, dan tidak dimaksudkan sebagai panduan praktis tanpa ilmu dasar.


    Penutup: Bekerja Tanpa Kehilangan Arah

    Jika Tuhan Mengatur Rezeki Manusia, Mengapa Kita Harus Bekerja? bukan pertanyaan yang selesai dengan satu jawaban. Kitab Al-Makasib tidak menawarkannya.

    Yang ditawarkan adalah kerangka etika: bahwa bekerja adalah ibadah jika dilakukan dalam batas, dan menjadi bencana jika mengikis ketaatan.

    Mungkin inilah pelajaran terpenting dari Al-Muhasibi:
    bekerja bukan soal menantang takdir, melainkan menjemput rezeki tanpa kehilangan Allah di dalamnya.


    Identitas Buku

    Judul: Jika Tuhan Mengatur Rezeki Manusia, Mengapa Kita Harus Bekerja?
    Judul asli: Kitāb al-Makāsib
    Penulis: Imam Al-Muhasibi
    Penahkik: Abdul Qadir Ahmad ‘Atha’
    Penerjemah: Abdul Majid, Lc.
    Penerbit: Rene Turos Pustaka
    Tahun: 2022
    Tebal: 208 hlm
    Genre: Islam / Etika Ekonomi


    Pertanyaan Umum (FAQ)

    Jika rezeki sudah ditentukan, apakah usaha masih berpengaruh?

    Ya. Ketetapan rezeki sering kali berjalan melalui sebab-sebab, dan usaha adalah salah satu sebab utama tersebut.

    Apakah bekerja berarti tidak tawakal?

    Tidak. Tawakal justru bermakna berserah diri setelah melakukan usaha terbaik, bukan meninggalkan usaha sama sekali.

    Apakah orang yang tidak bekerja berarti imannya lemah?

    Tidak selalu. Namun menjadikan keimanan sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab hidup adalah bentuk pemahaman yang keliru.

    Apakah rezeki selalu berbentuk uang?

    Tidak. Rezeki mencakup kesehatan, ilmu, kesempatan, relasi, dan kemampuan untuk berusaha.


    Catatan Editorial Ruang Resensi

    Artikel ini tidak dimaksudkan untuk memberi jawaban hitam-putih, melainkan membuka ruang refleksi. Antara iman dan usaha tidak ada pertentangan—yang ada adalah keseimbangan.

    Artikel ini juga disusun sebagai refleksi bernalar atas sebuah kitab klasik, bukan untuk menggantikan teks aslinya. Dalam konteks Ruang Resensi, tulisan semacam ini dapat dipahami sebagai artikel reflektif yang merupakan bentuk resensi pemikiran, yang bertujuan membuka dialog antara teks, pembaca, dan realitas.



    Author

    Moera Ruqiya

    Panggil aku, Moera.