BLANTERORBITv102

    Review Novel Hujan - Tere Liye

    2026-01-20

      

    sampul novel hujan

    Kau, Aku, dan Hujan


    Ruang Resensi — Hujan sering diasosiasikan dengan romantisme dan kenangan. Ia turun perlahan, membawa ingatan yang kadang hangat, kadang menyakitkan. Dalam novel Hujan, Tere Liye menjadikan hujan bukan sekadar latar cuaca, melainkan penanda waktu, kehilangan, dan proses menerima.

    Novel ini berkisah tentang Lail dan Esok, dua remaja yang dipertemukan oleh bencana besar, lalu dipisahkan oleh waktu dan pilihan hidup. Di tangan Tere Liye, kisah cinta tidak hadir sebagai letupan emosi, melainkan sebagai sesuatu yang tumbuh sunyi—sering tertahan, kadang tak sempat terucap.


    Ketika Dunia Runtuh dan Hidup Dimulai Ulang

    Cerita dibuka dengan gambaran dunia masa depan yang padat dan rapuh. Pada hari ketika penduduk bumi mencapai angka sepuluh miliar, bencana dahsyat terjadi. Sebuah letusan gunung purba memicu gempa besar yang meluluhlantakkan kota.

    Di tengah kekacauan itu, Lail kehilangan ibunya. Ia selamat, tetapi dunia yang ia kenal runtuh seketika. Pada saat yang sama, ia bertemu Esok—anak lelaki yang juga kehilangan, namun memilih bertahan dengan cara yang berbeda.

    Tere Liye tidak berlama-lama mengeksploitasi tragedi. Bencana hadir sebagai titik balik, bukan sebagai pusat cerita. Yang menjadi fokus justru hari-hari setelahnya: pengungsian, dapur umum, hujan abu, udara dingin, dan rutinitas baru yang harus dijalani para penyintas.


    Lail, Esok, dan Cara Menghadapi Kehilangan

    Lail digambarkan sebagai sosok yang pendiam dan bertahan dengan bekerja—mencuci piring di dapur umum, membantu sebisanya, menjalani hari demi hari tanpa banyak kata. Sementara Esok tampil sebagai pribadi jenius dan visioner, yang sejak awal memikirkan masa depan dan solusi.

    Perbedaan inilah yang membuat hubungan mereka menarik. Keduanya sama-sama terluka, tetapi memilih jalan yang berbeda dalam menyikapi kehilangan. Cinta tumbuh tanpa janji, tanpa pengakuan besar, dan tanpa kepastian.

    Di titik ini, Hujan tidak sedang bercerita tentang “bersama atau tidak bersama”, melainkan tentang bagaimana waktu membentuk jarak, dan bagaimana perasaan sering kali tertinggal oleh keadaan.

    Tema penerimaan atas kehilangan dan pilihan hidup dalam novel ini dapat disejajarkan dengan kisah Sabari dalam Ayah karya Andrea Hirata, yang menempatkan kesetiaan dan waktu sebagai ujian utama.


    Sains, Masa Depan, dan Imajinasi Sosial

    Salah satu kekuatan Hujan terletak pada keberanian Tere Liye memasukkan unsur sains dan spekulasi masa depan. Isu ledakan populasi, krisis pangan, perubahan iklim, dan tata kelola bencana disajikan dengan rujukan data yang cukup akurat.

    Gagasan tentang teknologi—mulai dari transportasi canggih hingga sistem pemerintahan yang efisien—memberi warna baru pada cerita yang sejatinya sederhana. Meski sebagian data dapat ditemukan dengan mudah, usaha penulis mengintegrasikannya ke dalam narasi patut diapresiasi.

    Namun, ada catatan penting: kejeniusaan Esok lebih banyak diceritakan daripada diperlihatkan. Pembaca kerap diberi tahu betapa hebatnya ia, tetapi jarang diajak menyaksikan prosesnya secara mendalam.


    Catatan Kritis

    Novel ini sesungguhnya bertumpu pada konflik yang sederhana: kehilangan dan penerimaan. Karena itu, beberapa bagian terasa repetitif—terutama pengulangan makna tentang hujan dan kesukaan Lail terhadapnya.

    Selain itu, terdapat beberapa ketidakkonsistenan kecil dalam alur, meski sebagian bisa dimaklumi karena cerita bergerak dalam rentang waktu panjang dan konteks simulasi.

    Pembacaan tentang kehilangan dan waktu dalam novel ini juga menemukan gaungnya dalam Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye, yang sama-sama mengolah duka dengan pendekatan hening dan manusiawi.


    Kesimpulan

    Hujan adalah novel tentang waktu yang berjalan lebih cepat daripada perasaan. Tentang cinta yang tidak selalu mendapat ruang untuk tumbuh, dan tentang kehilangan yang perlahan diajak berdamai.

    Tere Liye tidak menawarkan akhir yang meledak-ledak. Ia memilih ketenangan. Dan justru di sanalah kekuatan novel ini: pada kesediaannya membiarkan hujan turun, kenangan mengendap, dan pembaca menarik makna sendiri.

    Novel ini layak dibaca oleh pembaca muda yang menginginkan kisah romantis sederhana, dengan lapisan refleksi tentang masa depan, bencana, dan pilihan hidup.

    Isu trauma dan daya tahan manusia dalam menghadapi luka sosial juga dibahas secara berbeda dalam Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam, sebuah resensi fiksi reflektif di Ruang Resensi.

    Kutipan Pilihan

    “Lebih baik mendengar kebenaran meski itu amat menyakitkan daripada mendengar kebohongan meski itu amat menyenangkan.”
    (hal. 288)

    “Hanya orang-orang kuat yang bisa melepaskan, meski harus melewati sakit, tangis, dan kemarahan.”
    (hal. 298)


    Identitas Buku

    Judul: Hujan
    Penulis: Tere Liye
    Genre: Roman, Sci-Fi, Drama
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Tahun Terbit: 2016
    Tebal: 320 halaman
    eISBN: 978-602-038359-0





    Author

    Moera Ruqiya

    Panggil aku, Moera.