Review Buku Teach Like Finland
Seni Mengajar ala Nordic dan Tantangannya di Indonesia
Pengantar: Mengapa Teach Like Finland Layak Dibaca
Membaca Teach Like Finland bukan pengalaman yang sepenuhnya ringan. Terjemahan yang kurang nyaman dan ukuran huruf yang kecil membuat proses membaca terasa lambat dan melelahkan. Selain itu, sebagian besar strategi dalam buku ini difokuskan pada pendidikan tingkat sekolah dasar, sehingga jika diterapkan pada SMP, SMA, atau bahkan perguruan tinggi, diperlukan penyesuaian yang tidak kecil.
Timothy D. Walker juga menulis dari perspektif seorang pendidik Amerika yang mengajar di Finlandia. Perbandingan yang ia bangun kerap bertumpu pada sistem pendidikan Amerika dan Finlandia—dua konteks yang secara budaya, kebijakan, dan kesejahteraan pendidiknya cukup berbeda dari Indonesia.
Namun, justru di situlah nilai buku ini. Teach Like Finland tidak menawarkan resep instan, melainkan membuka cara pandang baru tentang pendidikan: bahwa kualitas belajar tidak bisa dilepaskan dari kesejahteraan, rasa aman, dan kebahagiaan guru serta murid.
Dalam ulasan ini, Ruang Resensi akan membahas gagasan inti Teach Like Finland, kekuatan dan keterbatasannya, serta relevansinya jika dibaca dari konteks pendidikan Indonesia.
Jika Anda ingin memahami bagaimana sebuah resensi buku disusun secara sistematis, kritis, dan bertanggung jawab, silakan baca artikel pilar kami tentang Pengertian Resensi, Tujuan, Jenis, Unsur, dan Contohnya sebagai rujukan dasar sebelum melanjutkan ulasan ini.
Gagasan Utama Teach Like Finland
Buku ini merangkum 33 strategi mengajar yang dikelompokkan Timothy ke dalam lima tema besar:
Kesejahteraan (Well-Being)
Rasa Dimiliki (Belonging)
Kemandirian (Autonomy)
Penguasaan (Mastery)
Pola Pikir (Mindset)
Alih-alih menekankan hasil akademik semata, Timothy menunjukkan bahwa sistem pendidikan Finlandia justru membangun fondasi belajar dari kondisi manusiawi peserta didik dan pendidiknya. Belajar yang bermakna lahir dari lingkungan yang sehat, tenang, dan manusiawi.
Kesejahteraan sebagai Fondasi Pendidikan
Timothy membuka bukunya dengan tema kesejahteraan, dan pilihan ini terasa tepat. Mengutip Emma Seppälä, penulis The Happiness Track, ia menegaskan bahwa kebahagiaan bukanlah hasil dari kesuksesan, melainkan prasyaratnya. Dalam konteks pendidikan, menyukai apa yang dikerjakan menjadi kunci keberlanjutan belajar dan mengajar.
Kesejahteraan yang dimaksud bukan sekadar pemenuhan sandang, pangan, dan papan, tetapi mencakup kesejahteraan fisik, emosional, dan mental—baik bagi guru maupun murid. Ketika kebutuhan dasar terpenuhi, proses belajar tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan ruang tumbuh bersama.
Salah satu praktik yang sering disorot adalah istirahat 15 menit setelah 45 menit pelajaran. Pola ini, menurut riset Anthony Pellegrini, justru meningkatkan fokus belajar anak. Penundaan waktu istirahat terbukti menurunkan konsentrasi dan kualitas perhatian.
Selain itu, guru di Finlandia didorong untuk pulang tepat waktu, sementara siswa diberi beban pekerjaan rumah yang relatif ringan. Lingkungan kelas dijaga tetap tenang, minim tekanan, dan bebas kebisingan—sebuah pendekatan yang berangkat dari keyakinan bahwa ketenangan adalah syarat belajar yang sehat.
Rasa Dimiliki: Relasi Guru dan Murid
Tema berikutnya adalah rasa dimiliki. Timothy menekankan bahwa pendidikan tidak akan efektif tanpa hubungan personal yang sehat antara guru dan murid. Mengenal setiap anak—bukan hanya sebagai nomor absen, tetapi sebagai individu—menjadi kunci utama.
Praktik sederhana seperti menyapa murid sebelum kelas dimulai, melakukan morning circle, atau berbincang santai saat makan siang, justru memberi dampak besar.
“Adanya momen non-akademik saat makan siang, ketika kita bisa membicarakan apa pun dengan bebas, akan sangat bernilai untuk memperkuat hubungan pribadi.” (h. 61)
Dalam isu perisakan (bullying), Finlandia mengembangkan sistem KiVa, sebuah pendekatan restoratif yang tidak berfokus pada hukuman semata. Pelaku dan korban dipertemukan, diminta menceritakan perspektif masing-masing, lalu bersama-sama mencari solusi pencegahan. Menariknya, permintaan maaf tidak diwajibkan—karena permintaan maaf yang dipaksa sering kali kehilangan makna.
Kemandirian dan Kepercayaan pada Murid
Teach Like Finland juga mengedepankan kebebasan yang bertanggung jawab. Timothy memberi contoh bagaimana murid diberi kepercayaan penuh untuk mengelola kegiatan penggalangan dana tanpa campur tangan guru. Dari perencanaan hingga eksekusi, semuanya dilakukan oleh murid—dan berhasil.
Contoh lain adalah program Minggu Belajar Mandiri, di mana siswa mengerjakan daftar tugas tanpa pengawasan langsung. Kepercayaan ini menumbuhkan rasa tanggung jawab, bukan ketergantungan.
Dalam relasi dengan orang tua, Timothy memperkenalkan konsep “bermuka tebal”—bukan keras kepala, melainkan tegas secara profesional. Guru perlu berani menjaga batas peran:
“Anda adalah ahli di rumah, dan saya adalah ahli di sekolah.”
Intervensi berlebihan orang tua, jika tidak dikelola, justru dapat merampas kebahagiaan mengajar seorang guru.
Refleksi Kritis: Pendidikan Indonesia dan Kesejahteraan
Membaca Teach Like Finland dari Indonesia memunculkan kontras yang tajam. Di negeri ini, guru sering dibebani tuntutan berlapis, namun kesejahteraannya diabaikan. Gaji guru—terutama honorer—masih jauh dari layak, memaksa mereka mencari pekerjaan sampingan demi bertahan hidup.
Masalah tidak berhenti di sana. Keterbatasan sarana dan prasarana, kurikulum yang terus berubah, serta ruang gerak guru yang semakin sempit memperparah kondisi. Guru dituntut mendidik secara optimal, tetapi sering kali tanpa dukungan yang memadai.
Dalam kondisi seperti ini, wacana kesejahteraan ala Finlandia terasa idealistis. Namun justru di situlah nilai reflektif buku ini: pendidikan yang menyejahterakan bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar. Tanpa kesejahteraan guru, sulit membayangkan lahirnya pendidikan yang bermutu dan manusiawi.
Kelebihan Buku Teach Like Finland
Buku ini kuat sebagai sumber perspektif alternatif tentang pendidikan. Timothy tidak berbicara dalam bahasa kebijakan yang kaku, melainkan melalui pengalaman nyata di ruang kelas.
Pendekatannya menyeimbangkan antara teori pendidikan, riset pendukung, dan praktik harian. Bagi pendidik, buku ini membuka ruang refleksi tentang bagaimana menciptakan kelas yang lebih sehat, tenang, dan bermakna.
Keterbatasan Buku
Namun, buku ini tidak lepas dari keterbatasan. Fokusnya yang dominan pada pendidikan dasar membuat sebagian strategi perlu dimodifikasi jika diterapkan pada jenjang lebih tinggi.
Selain itu, konteks sosial Finlandia—dengan kesejahteraan negara yang kuat dan sistem pendidikan mapan—membuat sebagian gagasan sulit diterapkan secara langsung di Indonesia tanpa perubahan struktural yang signifikan.
Kesimpulan
Teach Like Finland bukan buku panduan teknis siap pakai, melainkan buku reflektif bagi para pendidik. Nilai utamanya terletak pada cara pandang: bahwa pendidikan seharusnya berangkat dari kesejahteraan manusia, bukan sekadar target akademik.
Buku ini layak dibaca oleh guru, calon pendidik, dan pemerhati pendidikan—bukan untuk ditiru mentah-mentah, tetapi untuk direnungkan dan disesuaikan dengan realitas masing-masing.
Identitas Buku
Pertanyaan Umum Seputar Buku Teach Like Finland
Referensi Tambahan
Catatan Editorial Ruang Resensi
Teach Like Finland sebaiknya dibaca sebagai cermin refleksi pendidikan, bukan sebagai resep instan. Nilainya terletak pada keberanian menempatkan kesejahteraan manusia sebagai inti proses belajar.


0 comments