BLANTERORBITv102

    Resensi Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam | Dian Purnomo

    2024-09-27

     

    novel perempuan yang menangis kepada bulan hitam

    Antara Ambisi dan Leluri


    Ruang ResensiPerempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam adalah suara perempuan Sumba yang disampaikan Dian Purnomo dengan keberanian dan empati. Novel ini mengingatkan bahwa di balik kemajuan zaman, masih ada perempuan yang hidup dalam kungkungan adat, tanpa ruang untuk menolak, apalagi menentukan hidupnya sendiri.

    Melalui tokoh Magi Diela, pembaca diajak menyaksikan bagaimana ambisi, pendidikan, dan cita-cita seorang perempuan berhadapan langsung dengan hukum leluri yang tidak memberi ruang negosiasi. Apa yang disebut sebagai tradisi, dalam kisah ini, tampil sebagai kekuasaan yang melukai.

    Catatan pembaca: novel ini memuat tema kekerasan berbasis gender dan disarankan untuk pembaca dewasa.


    Ketika Tradisi Menjadi Alat Kekerasan

    Magi Diela adalah perempuan muda yang aktif dan berpendidikan. Suatu hari, dalam perjalanan menjalankan tugas penyuluhan ke sebuah desa, hidupnya berubah drastis. Ia menjadi korban praktik adat yappa mawie—tradisi penculikan perempuan untuk dinikahkan—yang dibenarkan atas nama leluhur.

    Dian Purnomo tidak membingkai peristiwa ini sebagai drama yang bombastis. Kekerasan hadir sebagai kenyataan pahit yang sunyi, dialami oleh seseorang yang kehilangan kendali atas tubuh dan masa depannya sendiri. Magi tidak diberi ruang untuk bertanya, menolak, atau memilih. Segalanya telah “diatur”.

    Dalam konteks ini, adat tidak lagi menjadi identitas budaya yang dirawat, melainkan mekanisme dominasi yang menyingkirkan kemanusiaan.


    Tubuh Perempuan dan Kekuasaan Lelaki

    Novel ini dengan jelas menyoroti sistem patriarki yang menempatkan lelaki sebagai pusat kuasa. Sosok Leba Ali digambarkan bukan hanya sebagai individu pelaku, tetapi juga sebagai representasi struktur sosial yang timpang—memiliki pengaruh, koneksi, dan kemampuan untuk menghindari hukum.

    Dian Purnomo menunjukkan bagaimana hukum bisa menjadi tumpul ketika berhadapan dengan kekuasaan. Kekerasan tidak berhenti pada peristiwa awal, tetapi berlanjut dalam bentuk pembungkaman, normalisasi, dan pembenaran kolektif.

    Di titik ini, Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam tidak sekadar bercerita tentang satu korban, melainkan tentang sistem yang memungkinkan kekerasan itu terus terjadi.


    Bahasa, Luka, dan Keberanian Bercerita

    Salah satu kekuatan novel ini terletak pada pilihan bahasanya. Dian Purnomo menggunakan diksi yang lugas dan metafora yang tajam untuk menggambarkan luka batin tokohnya. Bahasa tidak dipakai untuk memperindah penderitaan, tetapi untuk menegaskan kehancuran martabat yang dialami.

    Penggunaan bahasa daerah Sumba dalam dialog turut menghidupkan latar, memperlihatkan riset dan kedekatan penulis dengan masyarakat setempat. Latar tidak hadir sebagai tempelan eksotis, melainkan sebagai ruang sosial yang kompleks—penuh kontradiksi antara nilai budaya dan hak asasi.


    Catatan Kritis

    Secara naratif, novel ini cukup kuat, namun terdapat beberapa catatan teknis. Peralihan sudut pandang yang tiba-tiba pada bagian tertentu terasa mengganggu alur yang sebelumnya dibangun dengan stabil. Plot twist yang terlalu dini juga mengurangi daya kejut yang seharusnya bisa dimaksimalkan di bagian akhir.

    Meski demikian, kekurangan tersebut tidak mengurangi bobot utama novel ini sebagai karya yang penting secara sosial. Keberanian mengangkat isu kekerasan berbasis adat dan patriarki menjadikan novel ini relevan dan perlu dibaca secara kritis.

    Pembacaan tentang trauma dan daya tahan perempuan dalam novel ini juga dapat disejajarkan dengan refleksi kehilangan dan ketabahan dalam Hujan karya Tere Liye, yang sama-sama menempatkan luka sebagai pengalaman manusiawi, bukan sensasi.


    Kesimpulan

    Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam adalah novel yang tidak nyaman, dan memang tidak dimaksudkan untuk itu. Ia mengajak pembaca menatap kenyataan pahit tentang bagaimana tradisi dapat berubah menjadi alat kekerasan ketika dilepaskan dari nilai kemanusiaan.

    Dian Purnomo menulis dengan keberanian, tetapi juga dengan tanggung jawab. Novel ini layak dibaca oleh pembaca dewasa muda yang ingin memahami isu perempuan, kesetaraan gender, dan luka sosial dengan kepala dingin dan empati.

    Pilihan untuk bertahan dan menafsirkan ulang makna hidup dalam novel ini dapat dibandingkan dengan ketulusan Sabari dalam Ayah karya Andrea Hirata, meski keduanya hadir dari konteks sosial yang berbeda.


    Identitas Buku

    Judul: Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
    Penulis: Dian Purnomo
    Editor: Ruth Priscilia Angelina
    Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
    Tahun Terbit: 2020
    Tebal: 320 halaman
    ISBN: 978-602-06-4845-3






    Author

    Moera Ruqiya

    Panggil aku, Moera.